Entri Populer

Kamis, 01 November 2012

Refleksi Psikologi Umum I #3


Tugas Refleksi 2 Oktober 2012
Pembelajaran psikologi umum pada waktu itu sangat menyenangkan. Pada saat Bu Umniyah menginstruksikan kami untuk membuat sebuah poster, dalam hal ini saya berada di kelompok ‘PSIKOANALISA’, saya langsung senyum senang. Sepertinya akan seru, itu yang saya pikirkan waktu mendengar tugas itu. Karena saya senang dengan hal-hal yang berbau ‘menghias’. Yang kelompok saya lakukan pertama itu adalah mendiskusikan konsep yang ingin ditulis, situasinya sangat membaur satu sama lain. Setelah konsep jadi, 2 orang teman saya pergi membeli bahan buat kreasi poster kami. Yang mengagetkan pas Bu Umniyah bilang waktunya tinggal 20 menit padahal teman sayayang beli bahan ini belum kembali. Waduh, kaget. Terus salah seorang menelepon mereka.
Menunggu teman yang pergi tadi, saya dan teman-teman yang tinggal memikirkan kira-kira sebentar kita menulisnya dengan gaya font begini, begitu, dan banyak hal yang terpikirkan. Setelah teman yang pergi tadi sudah kembali, kami mulai mengerjakannya dengan santai. Tapi, ketika Bu Umniyah bilang waktunya tinggal 10 menit nah, disitu saya dan teman-teman yang lain kaget. Hal-hal yang kami pikirkan mengenai font yang ini itu, model judulnya gimana semuanya buyar saking paniknya. Jadi, kami tidak lagi memerhatikan pikiran-pikiran itu, apa adanya saja. Tapi, kalau secara keseluruhan saya puas dengan hasil kerja kelompok kami yang mungkin berlangsung kurang lebih 1 jam.
Setelah selesai mengerjakan poster, masing-masing dari kami dibagi lagi untuk memamerkan hasil karya kami ke masing-masing perwakilan tiap kelompok. Disitu lagi-lagi saya kaget, karena ada beberapa hal yang sebenarnya saya tidak tahu mengenai apa yang dituliskan diposter. Tapi, beruntung saya tidak sendiri dalam memamerkannya, karena saya berduet dengan salah seorang dari kelompok saya. Jadi, tidak sendiri menjelaskannya.
Hal yang dapat saya ambil dari proses belajar waktu itu yang pertama tentu saja sangat menambah keakraban antar teman yang lain. Kedua, waktu itu suasana belajarnya sangat saya suka karena menurut saya belajar itu tidak harus serius, malah terkadang kita lebih dapat mengerti apabila dilakukan hal semacam ini.
Semoga refleksi kali ini, bisa menambah coretan yang bermanfaat bagi perjalanan proses belajar selama berada di prodi psikologi ini.
Sekian.

Refleksi Psikologi Umum I


Tugas Refleksi 25 September 2012
Pada tanggal 25 September 2012 di jam mata kuliah Psikologi Umum, materi yang disajikan mengenai Sejarah Psikologi. Hal yang dilakukan adalah lagi lagi terlibat dalam sebuah kelompok. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan sebuah referensi mengenai sejarah psikologi. Referensi tersebut berbahasa Inggris sehingga agak sedikit sulit dipahami.
Hal yang terjadi pada diri saya ialah agak sedikit malas membacanya, namun saya tetap membacanya walaupun harus bersusah payah membacanya berulang-ulang agar dapat dimengerti. Beruntung saya mendapatkan seorang teman kelompok yang modalnya besar dalam bahasa Inggris dan saya banyak bertanya mengenai arti kata-kata yang sulit.
Karena dalam memahami referensi yang diberikan cukup menyita waktu, jadi tidak semua kelompok dapat tampil ke depan. Hanya ada dua kelompok saja.
Menurut saya, pelajaran mengenai sejarah psikologi ini masih harus dipelajari lebih lagi. Karena melihat sejarahnya yang begitu rumit dan panjang, memang terasa sangat sulit memahaminya dengan cepat. Apalagi sejarah adanya psikologi, berasal dari filsafat yang juga lebih panjang perjalanannya.

Refleksi Psikologi Umum I


Tugas Refleksi 18 September 2012
Pertama-tama kami diberikan sebuah kertas putih kosong, saya mengira kertas itu buat menulis refleksi atau metafor. Ternyata yang ditugaskan oleh Bu Umniyah ialah menaruh kertas itu didepan wajah dengan tangan kanan memegang pulpen. Lalu kemudian menutup mata dan melukiskan wajah kita masing-masing. Kegiatan ini cukup menyenangkan karena sangat sulit menggambarkan wajah kita dengan posisi yang demikian. Setelah itu, kami diarahkan untuk menuliskan kalimat yang menggambarkan diri kita masing-masing. Kemudian kami dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan menggambarkan sifat teman kelompok kita satu sama lainnya.
Ketika saya menggambarkan diri teman kelompok saya, saya merasa bahwa sulit menilai seseorang hanya dalam kurun waktu yang masih singkat untuk saling mengenal. Mungkin saya hanya menuliskan sebagaian kecil dari yang saya lihat seperti apa teman saya selama ini. Saya menjadi bingung sendiri ingin menuliskan apa. Kami saling bercerita beberapa saat sambil mengakrabkan diri satu sama lain.
Kembali pada penggambaran wajah sebelumnya, saya juga merasa kesulitan dalam mengerjakannya sesulit menilai orang yang baru saya kenal. Hal yang saya lakukan hanya menilai objektif apa yang selama ini saya lihat.
Menurut saya, kegiatan ini dapat memberikan pelajaran bahwa menilai diri sendiri itu adalah hal yang sulit namun harus kita lakukan sebelum kita menilai orang lain. Selain itu, butuh waktu yang tidak singkat untuk saling mengenal sifat satu sama lain.

Senin, 09 Juli 2012

Keinginan Tidak Selalu yang Terbaik

Bismillah. Waktu sangat cepat berlalu ya, mari bersyukur karena sampai detik ini kita masih diberi kehidupan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pengumuman telah dideklarasikan, hasil tes telah keluar, dan berbagai respon telah terupdatekan. Tak jarang manusia dalam menilai suatu hal hanya dari sudut pandang negatif saja, apalagi jika mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan. Menurut saya itu hal yang wajar. Manusia yang dibekali akal dan pikiran mempunyai 2 sisi pandang; positif atau negatif; saya pernah mendengar perkataan seorang dosen disalah satu perguruan tingga, beliau mengatakan kurang lebih seperti ini,'manusia memang terlahir dengan sisi negatif lebih banyak dibandingkan positif, tinggal bagaimana manusia itu sendiri mengolah jiwanya, menuntun jiwanya kearah yang lebih baik, dan itu memang tugas manusia. Itu tantangan sebagai seorang makhluk'
Saya menulis disini sebagai seorang calon mahasiswa, yang alhamdulillah diberi nikmat kelulusan dibidang yang memang saya inginkan. Tapi menurut saya, orang-orang yang belum diberi nikmat ini lebih beruntung dari saya. Mengapa? mereka masih diberi kesempatan untuk berjuang, mendapatkan amal dijalan yang baik, masih diberi cobaan yang dapat menghapuskan dosanya. Bukannya saya menafikkan kalau saya merasa sangat beruntung, tapi saya hanya ingin membuka pikiran teman-teman saya yang belum lulus. Kalian punya tempat terbaik dengan jalan yang lebih baik, dan dengan perjuangan yang lebih baik yang kalian akan kenang nantinya. Hal yang kita inginkan, jalan yang kita inginkan, belum tentu itu yang terbaik bagi kita kedepannya. Manusia memang egois, selalu ingin keinginannya terkabulkan. Saya yakin, Sang Pencipta pasti memberikan yang terbaik dengan jalan yang baik. Tinggal bagaimana kita sabar menunggu dan tetap berjuang, jangan sampai kita tersesat kejalan yang dapat menyuramkan masa depan kita sendiri dengan memaksakan keegoisan kita sebagai manusia. Saya yakin kita semua mempunyai tempat terbaik masing-masing yang tidak mesti 'terbaik' itu adalah hal yang sangat kita inginkan sejak lama. Semua ada jalannya, tinggal kita yang terus berjuang dan yakinlah bahwa kita akan sukses ditempat yang terbaik yang telah disediakan untuk kita, bukan tempat yang sangat kita inginkan. Terima kasih. Assalamualaykum warahmatullahi wabarakaatuh :)

Selasa, 10 April 2012

Pertemuan, Perpisahan, dan Saudara

Malam semakin larut, UN semakin dekat. Jalan menuju perpisahan semakin terbuka lebar. Akankah jalan itu akan bertemu lagi disuatu titik kelak? Manusia memang sangat lumrah mengalami hal semacam pertemuan yang kemudian berubah menjadi perpisahan, tinggal bagaimana manusia itu sendiri menyikapinya. Mau senyum, tertawa, menangis, meringis, berteriak, ataupun merenung. Aku pernah berfikir kalau saja tidak ada sebuah perpisahan pasti menyenangkan. Tapi aku berpikir lagi, mana mungkin ada pertemuan kalau tidak dilengkapi dengan perpisahan. Pernah tidak kalian menyesali sebuah perpisahan? Ataukah pernah tidak kalian mengantar perpisahan itu tanpa sedikitpun penyesalan? Hidup memang tidak dapat ditebak. Senyum ceria seseorang pun yang mengantar kepergian orang terkasihnya belum tentu senyum itu tulus tanpa setitik penyesalan. Bisa saja senyum itu bermakna ganda, senyum karena orang terkasihnya pergi dan tak akan kembali atau senyum karena dia yakin kalau orang itu akan kembali kepadanya. Pertemuan menjadi suatu hal yang tak disangka-sangka adanya, aku memaknakan pertemuan itu sebagai suatu komitmen kalau kita akan berpisah kelak. Makanya, aku berusaha menjadikan suatu pertemuan itu sebagai simbol akan adanya perpisahan. Melakukan yang terbaik yang dapat membuatku senyum tulus dengan pertemuan itu agar tidak ada penyesalan nantinya. Tidak ada lagi kata-kata 'ah, mengapa baru ku lakukan sekarang? Mengapa tidak dari dulu?' atau kata-kata seperti ini 'seandainya aku tahu kita akan berpisah, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu kita bersama' Sangat sudah terlambat kawan. Walaupun sebagai remaja yang baru menginjak usia 18 tahun, aku juga pernah melontarkan kata-kata itu. Bahkan aku pernah menyesali diriku sendiri mengapa aku harus bertemu dengan mereka kalau akhirnya akan berpisah juga. Pernah tidak kalian berpikir kalau saja perteuan itu tidak ada, akankah hidup kalian berwarna? Akankah hidup kalian hanya ada perpisahan saja tanpa sebuah pertemuan? Berusaha menjadi orang yang bijak dalam menyikapi keadaan itu tak mudah. Butuh sesuatu hal yang terjadi yang akan menyadarkan kita, tapi setidaknya kita tidak larut dalam hal yang akan terjadi itu. Setidaknya kita menyadarinya dengan cepat, jangan sampai menjadi beban yang tidak bisa lepas dari hidup kita.

Lepas dari sekilas curhatan perpisahan diatas, hari ini aku mendengarkan kalimat 'berikanlah hal yang paling berharga buatmu untuk saudarimu kalau memang saudari sangat membutuhkan dan menyukainya' Pikiranku langsung tertuju pada suatu pilihan. Ya setidaknya pilihan menurutku, tapi tidak buat mereka. Mereka adalah temanku, sahabatku, bahkan saudaraku. Ya setidaknya itu menurutku, entahlah apa yang mereka pikirkan. Aku tidak pernah mau seperti ini, aku juga tidak pernah meminta akan seperti ini, dan aku juga tidak mau dengan egoku ini. Aku benci diriku sendiri saat aku harus menjadi lemah karena sesuatu yang seharusnya membuatku kuat. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya jika aku memang kuat menghadapinya. Terkadang aku juga bingung dengan diriku sendiri, masih banyak kok hal yang bisa membuatku kuat. Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menutupi kelemahanku. Sahabat?? Bahkan aku pernah berpikir, tidak ada gunanya memiliki sahabat kalau jadinya seperti ini terus. Tapi, aku sadar kalau aku tak akan bangkit lagi tanpa sahabat-sahabatku. Salah seorang pernah mengatakan begini, 'memang susah, tapi aku yakin kok you'll survive' dan seseorang juga pernah mengatakan begini, 'hadapi saja seperti biasa, ketawa seperti biasa, ikutan heboh seperti biasa.' Mereka membuatku kuat walaupun perlahan, tapi aku pasti bisa. Dan aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti kalian yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri. Kalian adalah tempatku bercerita sambil menangis hahahaha.... Dan lagi, setidaknya kalian adalah saudara menurutku, entahlah kalian menganggapku apa :D

Sabtu, 07 April 2012

Sekilas tentang bidang 8 :p

Lanjut dari cerita sebelumnya. Oh iya, di OSIS 17 itu ada 10 bidang yang masing-masing punya program kerja yang padat. Aku sendiri sebagai koordinator bidang 8 OSIS dengan nama SASTRA DAN BUDAYA punya 5 program kerja. Ada 3 program kerja inti yaitu, Dara dan Daeng 17, Heaven, Mute 17. Dan ada 2 program kerja tambahan yaitu Tragis 17, dan satunya lupa hehe. Oh iya sekedar info, pada periode ini juga program kerja bidang 8 OSIS diterima dengan baik oleh 8 MPK. Makasih ya Beatris, Dea, Mutiara, Alisha. Dan special thanks untuk anggota-anggotaku yang sudah berjuang keras, makasih Pite, Aca, Tika, Winda {}. Tanpa kalian 8 OSIS periode kali ini tidak akan sukses.
Dara dan Daeng 17 sendiri merupakan program kerja baru dari bidang 8. Program kerja ini bertujuan untuk mencari putra dan putri jubel yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan khusus dibidang budaya dan lingkup jubel itu sendiri. Dan ajang ini berhasil mendapatkan Dara 17 bernama Mutiara Purnamawati Assegaf dan Daeng 17 bernama Muh. Al Ikhlas, fotonya bisa diliat di website resminya jubel. Halaman paling depan loh hihi. Walaupun pemasangannya telat, maaf ya :D
Heaven sendiri merupakan singkatan dari Heritage of Art in Seventeen yang merupakan penyelenggaraan ulang tahun sekolah. Cukup sukses sih, walaupun suksesnya tidak sesuai yang diharapkan. Tapi Alhamdulillah kelar juga. Proses program kerja ini menuai beberapa masalah intern bidang 8 sendiri yang cukup memusingkan. Untunglah bisa terselesaikan berkat bantuan rekan-rekan O/M lainnya. Makasih buat Inti, Bidang 1-10 :) :) :)

Selasa, 03 April 2012

True Story (????)

Waktu terasa cepat berlalu. 3 tahun yang lalu, baru saja aku rasa sedihnya sebuah perpisahan. Dan sekarang aku akan segera merasakannya kembali. Masa-masa SMA yang penuh dengan tawa-tangis akan segera berakhir, dan ku harap akan berakhir dengan keceriaan. Mungkin di awal aku masuk SMA ini terasa biasa-biasa saja, nothing special. Tapi mengapa baru saat ini, di akhir-akhir kelas 3, rasanya sangat beda. Banyak kegiatan yang dilalui bersama dan itu mengasyikkan kawan :) Ya, tentu saja diluar masalah pribadiku sendiri.
Setahun pertama di SMA, aku baru saja menyesuaikan diri. Maklumlah, aku sampai 3 kali pindah kelas saat duduk di bangku kelas X. Mulai dari MOS, aku ditempatkan di gugus 'AMUN' atau gugus 2, terus saat pembagian kelas ternyata aku di X.3, lalu pengumuman aksel membuatku tergeser lagi ke X.2. Masuk semester 2, pas liat pengumuman rolling kelas, namaku ada di kelas X.1 no. urut 18. Semester kemudian tidak kalah menegangkan masalah rolling kelas karena aku sadar dan tahu betul nilaiku jauh dari nilai-nilai teman kelasku yang lain. Namun, beruntung aku masih tetap ada di XI IPA 1. Walaupun yang tertinggal di kelompok dudukku hanya aku dan Bani. No. urutku pun turun menjadi 29. Pada semester ini pula, mulai timbul masalah-masalah pribadiku yang lumayan menyita perhatian batinku (???). Sudahlah, hal itu cukup diluar konteks ini saja.
Semester 3 ini mulailah muncul tugas-tugas yang lebih berat dari semester sebelumnya. Salah satunya ada tugas Bahasa Indonesia beranama 'KTI' yang harus dituntaskan sebelum naik kelas 3. Aku juga tidak begitu ingat kejadian dan pengalaman apa saja yang aku dan mereka lalui, nantilah aku cerita kalau aku ingat..
Beralih ke semester selanjutnya, semester 4. Masa-masa menegangkan juga karena nilai di semester ini akan menetukan penempatan kelas 3. Tapi, tidak membuat aku dan mereka burenk-burenk juga sih. Tak bisa disingkirkan kata 'Burenk' itu dari warga Jubel, tapi kita menjalaninya juga selayaknya anak SMA lain yang pengennya main-main terus, jalan-jalan sama teman, liburan kelas, dan tak luput dari itu semua tentunya cerita cinta SMA haha. Oh iya, berhubung aku salah satu bagian dari OSIS 17, semester ini juga disibukkan dengan program-program kerja OSIS yang harus terselesaikan sebelum periode kami berakhir bulan Desember nanti. Mengenai kesibukan program-program kerja OSIS 17 Periode 2010/2011, aku kumpulin kata-kata dulu ya buat ceritanya..